Solusi Penyelesaian SampahThis is a featured page



Membangun Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pengelolaan Sampah Dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan

1. Pendahuluan

Solusi Penyelesaian Sampah - biologiBanjir yang melanda sejumlah wilayah Ibu kota menjadi berita media massa saat ini, diberitakan bahwa hujan yang saat ini terjadi menyebabkan banjir pada beberapa titik di sejumlah wilayah Ibukota, misalnya Jakarta Selatan wilayah bukit duri, dan wilayah sekitarnya. Hujan baru akan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Februari. Sedangkan hujan yang terjadi saat ini pun telah menyengsarakan penduduk kota Jakarta. Bagi sebagian warga Jakarta, ini sudah menjadi banjir musiman bagi sejumlah warga yang rumahnya berada di pinggir kali Ciliwung. Dari sejumlah berita yang kita dengar ada satu hal yang menjadi permasalahan baru ketika banjir melanda dan mulai surut adalah timbulnya wabah penyakit dan tumpukkan sampah. Banjir yang terjadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Sampah yang ada dibuang ke sungai dengan harapan dapat dibawa aliran sungai, namun sampah akhirnya menggenangi sungai dan menghambat aliran air. Hingga bisa dilihat dipintu air tumpukan sampah menjadi pemandangan yang luar biasa. Ada sebagian orang yang mengais keberuntungan dengan mengambil sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan dan dijual. Di Aceh, permasalahan sampah menjadi sangat serius usai terjadinya gelombang Tsunami di Aceh. Bagaimana tidak, di sepanjang kota Banda Aceh, daerah-daerah di Aceh Besar, misalnya tumpukan sampah dari berbagai macam benda menggunung. Ada bangkai mobil, kapal-kapal nelayan yang sampai ketengah kota karena terbawa arus air bah, belum lagi Lumpur, reruntuhan tembok, kayu-kayu, besi-besi, seng, alumunium, dan masih banyak lagi sampah yang lainnya. Sampah-sampah itu ada dari segala jenis benda yang akrab dengan kita. Tidak ada yang membayangkan bagaimana sampah itu dibersihkan. Maka dari itu, selain evakuasi mayat, masalah pembersihan sampah di Aceh adalah pekerjaan lain yang luar biasa beratnya. Di satu sisi, pembersihan itu mendesak untuk dilakukan dengan cepat, tapi di sisi lain pembersihan itu harus dilakukan dengan hati-hati. Sebab, masih ada ribuan mayat yang berserakan, terlebih di bawah reruntuhan bangunan. Lain di Aceh, lain pula di Bantar Gebang, Desa ini yang lahannya seluas 108 hektar dijadikan sebagai tempat pembuangan akhir warga DKI, secuil lahan yang berbatasan dengan pemukiman warga di tiga desa-Ciketing Udik, Ciwikul dan Sumur Batu, dijadikan tempat pembuangan akhir oleh Dinas kebersihan DKI dengan membuang sekitar 6.250 ton sampahnya setiap hari ke desa ini. Sampah-sampah basah dan bau itu dibuang dan ditumpuk saja tanpa diolah dengan baik. Bau yang menyengat dari sampah tersebut sudah bisa dirasakan sampai radius 15 kilometer, belum lagi pencemaran akibat rembesan cairan hasil pembusukan sampah (lindi) yang meresap ke dalam sumur air tanah yang digunakan warga. Akibat pengolahan yang tidak baik maka berkali-kali warga setempat memprotes keberadaan tempat pembuangan akhir ini kepada Pemerintahan Provinsi (PemProv) DKI agar segera memperbaiki sistem pengolahan sampah itu. Studi kasus diatas pada intinya adalah persoalan penanganan sampah yang seharusnya dilakukan. Sampah telah lama sudah menjadi persoalan kota. Tidak hanya di DKI Jakarta yang berpenduduk padat, kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya, Bandung, Semarang, Medan dan Malang. Berbagai upaya sudah dilakukan. Pembangunan tempat pembuangan sampah, pengadaan kendaran pengangkut sampah, pembangunan mesin pembakar sampah, hingga mendatangkan cacing tanah untuk menghancurkan sampah pun sudah pernah dilakukan tiap kota. Berbagai gerakan “perang” terhadap sampah pernah dikeluarkan, seperti gerakan kerja bakti membuang sampah dan kewajiban membeli kantung plastic pembuangan sampah. Bagi pembuang sampah sembarangan pun pernah dikenakan tindakan sanksi dan hukuman, yaitu melalui Perda No 1 Tahun 2000 dengan hukuman dipenjara selama 6 bulan dan dikenakan denda sebesar 5 juta rupiah. Namun hingga kini persoalan sampah tidak juga reda, bahkan justru kian menjadi-jadi. Belum lama kita dengar adanya pengrusakan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) oleh sejumlah warga bojong Bogor, karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitar. Dari kenyataan di atas nampak bahwa semakin besar permasalahan yang kita hadapi mengenai sampah, dampaknya terhadap lingkungan hidup dan keberlangsungan hidup manusia. Tingginya tumpukan sampah akan berpengaruh terhadap resapan air tanah dan tanah yang tercemar sudah barang tentu akan mempengaruhi lingkungan sekitar. Tulisan ini ditujukan untuk memaparkan tentang membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan pengaruhnya terhadap lingkungan hidup.

2. Makna sampah dan permasalahannya

Sampah secara filosofis sebenarnya harus dianggap sesuatu benda yang berharga dan bermanfaat, bila dikelola dengan baik. Sampah bila dikelola dengan baik bisa menjadi bahan baku pembuatan pupuk, biogas dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia berusaha mengubah lingkungannya demi kelangsungan hidupnya. Keberhasilan memanfaatkan apa yang terdapat dalam lingkungannya untuk kelangsungan hidup manusia sekarang dan selanjutnya ditentukan oleh pemahaman, penghayatan serta pandangan hidup manusia akan adanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara manusia itu sendiri dengan lingkungannya. Sampah menentukan citra diri suatu bangsa, hal ini bisa dilihat dari bagaimana mereka memperlakukan sampah dan mengelolaannya dengan baik. Kita telah mengetahui bahwa aliran energi melalui biosfer itu searah; dari matahari – produsen kemudian ke konsumen dan akhirnya ke organisme pengurai, akan tetapi bahan-bahan pembangun benda hidup dan yang menyimpan energi matahari harus di daur ulang jika system itu harus berlangsung. Maka melalui kegiatan organisme pengurai inilah – yang bekerja pada setiap maka rantai dalam rantai makanan – sebagian besar dari daur ulang ini mungkin terjadi. Di alam, proses pembusukan merupakan salah satu proses terpenting bagian dari siklus hara yang berkaitan erat dengan keseimbangan alam (homeostatis) dan kesinambungan kehidupan. Semua sisa-sisa kehidupan secara perlahan tapi pasti akan busuk, kemudian terurai menjadi unsur hara atau sebagai “makanan” yang menopang kehidupan selanjutnya dan memberi ruang kepada generasi makhluk hidup. Tanpa adanya proses pembusukkan, kualitas dan kuantitas kehidupan akan menurun menuju kemudahan. Dengan kemajuan teknologi,proses pembusukkan di alam dapat dipercepat untuk kepentingan manusia. Penimbunan sampah organik yang menggunung dapat dipercepat pembusukkannya dengan menggunakan mikroba dan cacing tanah dalam tempat khusus yang berfungsi sebagai reaktor. Semua faktor lingkungan, seperti suhu dan kelembaban dapat dikontrol dalam reaktor tersebut sehingga proses pembusukkan berlangsung secara optimum. Penambahan sampah organik dan pemanenan hasil akhir kompos dilakukan secara otomatis. Percepatan pembusukkan di alam memerlukan teknologi dan biaya tinggi, tetapi tetap laik. Hal ini karena setelah proses pembusukan berlangsung, efisiensi dan estetika atau kesehatan menjadi lebih baik bagi masyarakat. Selain itu, hasil akhir pembusukan sampah organik antara lain kompos berkualitas (20-25 persen dari bahan dasar sampah yang tidak berharga) dapat dimanfaatkan untuk agrobisnis. Hal ini menjadi satu idealitas yang dapat berlangsung dengan baik jika seluruh masyarakat sadar akan arti manfaat sampah. Akan tetapi, semua ini tidak terjadi di negeri kita ini, lambatnya proses penanganan terhadap sampah bisa dilihat dari beberapa kasus usang yang tak terselesaikan dari tahun 1966 sampai menjelang akhir tahun 2003. Sebagai contoh kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Bantar Gebang sudah sedemikian parah karena asal mula penanganan sampah yang gegabah. Sampah yang langsung dibuang bertumpuk tanpa ditimbun tanah sebagai syarat sanitary Landfill Sejak dibukanya 16 tahun yang lalu, berat tumpukkan sampah Bantar Gebang sudah diperkirakan mencapai 36 juta ton. Bau menyengat akibat gunung sampah itu mencapai radius 15 kilometer. Proses pengurukkan sampah dengan tanah yang seharusnya dilakukan secara berkala untuk meredam bau sampah juga tidak dilakukan dengan benar. Warga disekitar TPA berkali-kali mendesak Pemerintah Provinsi (PemKot) DKI agar segera memperbaiki sistem pengolahan sampahnya di Bantar Gebang. Satu realitas yang yang belum jelas penyelesaiannya.

3. Penanganan sampah dan pengelolaannya

Sampah bisa dipandang sebagai kotoran sekaligus harta karun. Sebab yang namanya sampah organik itu selalu ada di mana-mana dan bagi yang memanfaatkan atau memproses akan mendapatkan uang. Sampah adalah aib jika sampah dipandang sebagai kotoran. Namun lain halnya jika sampah merupakan sumber daya bisa mendatangkan uang, Ketika sesuatu sudah diposisikan sebagai sumber daya, orang berpikir akan manfaatnya. Sampah perlu dikelola melalui kebijakan publik. Untuk memastikan kebijakan publik ini berjalan efisien, partisipasi masyarakat tentu merupakan hal yang utama, namun sayangnya hingga saat ini partisipasi masyarakat belum dianggap penting. Hasan Halim, pengamat perkotaan di Jakarta mengatakan masyarakat seharusnya dilibatkan dalam perencanaan Pemerintah untuk mengelola sampah. Sebagai contoh penanganan sampah di Aceh akibat gempa dan gelombang Tsunami. Seperti dilaporkan oleh Azhar Suhaimi dkk dari Tarbawi, pembersihan sampah di Aceh, berada di bawah tanggung jawab kementerian pekerjaan Umum (PU). Namun pelaksanaannya dilapangan didelegasikan ke Dinas Sumber daya Air di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam(NAD). Kepala Dinas sumber Daya Air Provinsi NAD, Ir. H. Ridwan Husin, ketika ditemui Tarbawi mengatakan, bahwa kantornya mendapatkan tugas untuk membersihkan sampah di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ia juga menjelaskan bahwa daerah yang menjadi tanggung jawabnya secara kerja dibagi menjadi lima, meliputi Kecamatan Jaya baru, Meuraya, Kuta Lama, Syiah Kuala dan Kuta Raja. Sedangkan pelaksana teknisnya ditangani oleh BUMN. Ridwan mengatakan pembersihan tidak bisa dipastikan selesai dalam satu bulan sesuai dengan target yang diberikan, hal ini dikarenakan pada shift malam diperlukan alat bantu penerangan, sementara di Banda Aceh listrik masih sering mati. Masalah lain adalah pembersihan ini tidak memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) jadi sampah di lokasi bencana dipindahkan ke tempat yang masih dalam lingkup lokasi tersebut.(Tarbawi,Edisi 101 Th 6/5 Februari 2005). Lahan cekungan seluas 108 hektar yang berada di kecamatan Bantar Gebang Bekasi, sudah dimanfaatkan menjadi tempat pembuangan akhir sampah DKI Jakarta sejak tahun 1989. Namun hingga saat ini berbagai persoalan teknik maupun manajerial kawasan terus membelit Banyar Gebang. Pengelolaan sampah yang dilakukan di TPA Bantar Gebang seharusnya dikelola dengan system sanitary landfill. Sanitary landfill adalah system pengelolaan sampah yang mengembangkan lahan cekungan dengan syarat tertentu, antara jenis dan porositas tanah. Dasar cekungan pada system ini dilapisi geotekstil. Lapisan yang menyerupai plastik ini menahan resapan lindi ke tanah. Di atas lapisan ini, dibuat jaringan pipa yang akan mengalirkan lindi ke kolam penampungan. Lindi yang telah melalui instalasi pengolahan baru dapat dibuang ke sungai. Sistem ini juga mensyaratkan sampah diuruk dengan tanah setebal 15 cm tiap kali timbunan mencapai ketinggian dua meter. Kenyataannya, pengurukan tanah sangat bermasalah, sampah mengunung tanpa urukan yang memadai. Rembesan cairan hasil pembusukan sampah yang biasa disebut lindi teridentifikasi mencemari air tanah hingga sungai. Pencemaran pada air tanah , misalnya , disebabkan oleh kandungan bakteri E. coli dan logam berat. Pengelolaan sampah di Bantar Gebang kondisinya baru mulai membaik sekitar tahun 2002 lalu. Tapi hingga saat ini pun Sanitary landfill tidak benar-benar diterapkan, pengelolaan si sana lebih bersifat controlled landfill. Pakar ilmu lingkungan dari Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Universitas padjajaran, Prof. Oekan S Abdoellah Ph.D berpendapat bahwa perilaku dan cara pandang orang terhadap sampah merupakan akar masalah mengapa pengelolaan sampah di kota-kota besar di Indonesia begitu amburadul. Juga merupakan penanda niat dan komitmen pemerintah yang rendah membangun sistem kelola sampah yang beradab. Oekan juga menambahkan selain kesadaran khalayak yang memang dibutuhkan, yang tak kalah penting adalah niat, komitmen dan kemauan politik pemerintah untuk mempercepat kesadaran khalayak. Hal pertama yang harus dilakukan menurut Oekan adalah merubah cara pandang orang terhadap sampah, dari semula sampah adalah “sampah” menjadi sampah “sumber daya”. Kalau cara pandang ini telah terpatri di kepala setiap orang yang hidup di Indonesia,perilaku yang positif akan terbentuk, ketika sesuatu sudah diposisikan sebagai sumber daya, orang berpikir akan manfaatnya. Selain itu merubah paradigma masyarakat bukan hanya sekedar membuang sampah, tapi sudah mampu untuk mengelola sampah tersebut dengan memisahkan antara sampah organik dan sampah anorganik. Ihwal pemanfaatan sampah organik adalah masalah penting di Bantar Gebang. Sementara yang anorganik dikumpulkan pemulung untuk dijual ke pabrik-pabrik pendaur ulang, sampah organik yang dapat diubah menjadi pupuk atau sumber daya bagi pembangkit listrik tenaga uap yang belum terkelola dengan baik. Kesadaran khalayak untuk mau memilah sampah organik dan anorganik sebetulnya dapat dipicu dengan memberikan insentif. Misalnya pengurangan pajak bagi restoran, kantor dan pusat bisnis yang kooperatif dalam pemilahan sampah tersebut. Pakar lingkungan Prof. (Em) Dr. Otto Soemarwoto merujuk Protokol Kyoto dan Mekanisme Pembangunan Bersih sebagai instrument bagi pengelolaan sampah untuk mendapatkan manfaat yang sangat menguntungkan. Sedangkan menurut Hilmi Salim,spesialis kelola sampah dari kajian ekologi industri PPSDAL Unpad, berpendapat adalah salah jika memandang pengelolaan sampah sebagai pekerjaan sosial. TPA seharusnya dikelola layaknya sebagai sebuah industri. Karena nilai pokok dalam pengelolaan industri adalah manajemen, hal itu mau tidak mau harus dilakukan. Sistem pembuangan sampah tersentral di satu tempat yang luas sangat tidak efisien baik secara ekonomi maupun secara ekologi. TPA yang tersentral akan menjadi persoalan besar jika tiba-tiba ada masalah yang tidak dapat terkendali dengan cepat. Sampah seharusnya diletakkan di tempat-tempat pembuangan berdasarkan rayon. Beberapa kecamatan dengan jumlah penduduk tertentu memiliki satu tempat pembuangan sampah sendiri sekaligus tempat pengolahannya. Tempat pembuangan dengan rayonisasi juga mempersingkat waktu dari pengambilan ke tempat pembuangan sampah untuk langsung di olah. Hal ini penting untuk meminimalkan bau akibat proses pembusukan yang tidak sapat ditunda. Rayonisasi pembuangan sampah menurut Hilmi, tidak akan membuat warga sekitarnya terganggu apabila tempat pembuangan dan pengolahan sampah dikelola dengan baik dan tidak menimbulkan polusi. Kompensasi sosialnya, warga sekitar mendapat tambahan subsidi kesehatan dan pendidikan sebagai insentif. Diperlukan stimulant dan sarana untuk mendorong kepedulian warga mengelola sampah dengan dibentuknya Community Organizer (CO) pada tingkat RW yang bertugas menggerakkan warga mengelola sampah, ujar Asyraf Ali, Ketua Badan Koordinasi Penanggulangan Sampah DKI Jakarta. Keberadaan AO yang berperan sebagai fasilitator di tingkat RW diharapkan dapat emnggerakan warga untuk membersihkan lingkungan rumah dan membuang sampah pada tempat yang seharusnya. Pada tingkat lebih lanjut, pemilahan sampah dari sumber juga lebih mudah dilakukan jika kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah telah terbentuk. Pengelolaan sampah di lingkungan kecil juga perlu di dukung oleh sarana dan perlengkapan pengangkutan sampah yang memadai, serta kesejahtreraan yang perlu ditingkatkan. Peningkatan ini dapat diupayakan melalui berbagai bentuk kerjasama dengan semua pihak. maka tidak mustahil sampah yang menjadi impian idealitas seperti yang telah dijelaskan didepan bisa terwujud di negeri ini.

4. Penutup

Kepedulian masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik sangat menentukan sebagai citra diri sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang mampu dan bertanggung jawab akan keberlangsungan hidup dan lingkungannya akan sangat menghargai sampah yang bisa dijadikan sumber daya yang bisa dimanfaatkan secara bersama. Dengan cara merubah paradigma masyarakat yang ada saat ini terhadap sampah, maka persoalan yang begitu rumit terhadap sampah saat ini akan bisa terselesaikan dengan baik dan benar.

Daftar Pustaka
Kimball. J,W. 1991. BIOLOGI. Jilid 3 Edisi kelima.
Penerbit Erlangga. Jakarta.1080 hal.
Majalah Tarbawi Edisi 101, Th 6/Dzulhijjah 1425 H/5 Februari 2005 Darmodjo. H, dkk. 1985.
Ilmu Alamiah dasar. UT. Jakarta.
Surat Kabar Kompas, Fokus (Ketika sampah (politik) sulit dibusukkan).Sabtu 10 januari 2004.



Posted Anonymously Latest page update: made by Anonymous , Mar 13 2008, 9:56 PM EDT (about this update About This Update Posted Anonymously Edited anonymously

1 image added
1 image deleted

view changes

- complete history)
Keyword tags: None (edit keyword tags)
More Info: links to this page

Anonymous  (Get credit for your thread)


There are no threads for this page.  Be the first to start a new thread.